Created with flickr slideshow.

IKLAN

World Clock

Oct 30, 2010

Allah dalam 3 Pribadi

TALLAH DALAM TIGA PRIBADI : ALLAH TRITUNGGAL

Bagaimana Allah dapat dalam tiga pribadi namun Allah yang Esa?

A. Mengapa kita perlu mempelajari doktrin Allah Tritunggal?

  1. Alkitab menyatakan Allah memperkenalkan diri dalam tiga oknum yang dapat dibedakan, yang secara umum adalah Bapa, Anak dan Roh. Walau istilah “TRITUNGGAL” itu sendiri tidak ada di dalam Alkitab, tetapi makna atau isi dari istilah itu jelas merupakan ajaran Alkitab tentang Allah.
  2. Garis pemisah antara Kekristenan dengan tradisi agama lainnya adalah “the confession that the one God is father, Son and Spirit”. Dengan kata lain, kepercayaan Allah Tritunggal adalah suatu pengakuan yang menjadikan kekristenan unik dan berbeda dengan tradisi agama lain.
  3. Emil Brunner mengatakan, doktrin Tritunggal bukan hanya dogma gereja, tetapi satu doktrin teologis untuk membela pusat iman Alkitab dan Gereja, sehingga walaupun kata “Tritunggal’ tidak ditemukan dalam Alkitab, namun gereja benar-benar menyadari bahwa memahami Allah adalah Tritunggal adalah dimensi Injil yang tidak bisa dinegosiasikan.

B. Sikap yang benar dalam mempelajari dokrin Allah Tritunggal?[1]

1. Karena kebenaran ketiga oknum Allah Tritunggal adalah tidak dicipta dan ketiganya berada dari kekal sampai kekal, maka kita harus menyadari adanya perbedaan dasar antara Pencipta dan yang dicipta waktu kita mau mengenalNya. Ketika kita menemukan kesulitan besar di dalam mempelajari dan mengajarkan doktrin ini, hal ini adalah wajar. Doktrin tritunggal memang sulit dimengerti, paling sulit dijelaskan, sulit diterima, sulit dipercaya, sulit diungkapkan dengan kata-kata atau istilah manusia karena melampaui rasio manusia (supra rasional), tetapi ini bukan berarti bertentangan dengan rasio (kontra rasional). Doktrin ini mungkin tidak dapat dimengerti oleh manusia secara sempurna, karena Allah adalah Allah yang tidak terbatas sedang manusia sangat terbatas.

2. Pada waktu kita mempelajari Tritunggal, kita bukan hanya menyelidiki konklusi dogma yang sudah didiskusikan berabad-abad, melainkan kita sedang belajar dari Dia, Allah Tritunggal itu sendiri. Allah bukan sekedar obyek penyelidikan kita, melainkan subyek. (kita bukan mempelajari tentang Dia, tetapi Dia sedang berada untuk mengajar saya)

C. Definisi.

Doktrin Allah Tritunggal menyatakan: Allah dalam kekekalanNya hadir dalam tiga oknum: Bapa, Anak dan Roh Kudus dan setiap oknum sepenuhnya adalah Allah dan Allah itu esa.

D. Doktrin Tritunggal secara bertahap dinyatakan dalam Alkitab.

  1. Pernyataan yang belum utuh dalam PL.

Walaupun doktrin Allah Tritunggal tidak jelas ditemukan dalam PL, namun beberapa bagian FT dalam PL telah memuat pengertian bahwa keberadaan Allah lebih dari satu pribadi.

Contoh:

  • Kej 1:26 kita tidak diberitahu berapa oknum terlibat tetapi pasti lebih dari satu. Ide yang sama juga ada di Kej 3:22; 11:7; Yes6:8
  • Maz 45:7-8 = dari deskripsi yang diberikan pasti pemazmur bukan sedang menjelaskan raja duniawi tetapi raja yang disebut “Allah” yang tahtahnya tetap untuk seterusnya dan selamanya. (ayat7); tetapi ketika berkata “sebab itu Allah, Allahmu …” (ayat8) pemazmur berbicara ada 2 oknum yang berbeda disebut Allah (ibr:’Elohim) yang di dalam PB dalam Ibrani 1:8 memakai ayat ini untuk Kristus.
  • Maz 110:1 = ada 2 pribadi yang dinyatakan: “Tuhan” dan “tuanku” bandingkan Mat22:44. Siapa Tuhan dan siapa Tuanku, selain Allah dan Yesus yang ada dalam konteks ini.

  1. Pernyataan yang lebih komplit dalam PB.

Ketita PB dibuka, kita masuk pada sebuah sejarah / era kedatangan Anak Allah ke dunia dimana di dalam diri Kristus kita mengenal Allah secara konkrit, di dalam diri Kristus kita mengenal Allah secara sempurna, secara benar dan lebih tepat. Jadi secara explicit pengajaran doktrin Tritunggal menjadi nyata didalam era kedatangan Anak Allah ke dunia (dalam PB). Beberapa ayat dimana ketiga oknum dari Trinity disebut bersamaan:

  • Mat 3:16-17 = 3 oknum mendemostrasikan 3 aktivitas yang berbeda
  • Mat 28:19
  • 1 Kor 12:4-6 = penulis PB umumnya menggunakan nama “Allah” (God = theos) à God the Father. Dan nama “Tuhan” (Lord = kyrios) à God the Son.

E. Tiga kalimat meringkas ajaran Alkitab tentang doktrin Allah Tritunggal.

Sebenarnya doktrin Allah Tritunggal adalah sebuah mistery dimana manusia tidak mungkin dapat mengerti sepenuhnya namun mengetahui bahwa di dalam satu ada tiga dan di dalam tiga tetap memiliki Keesaan adalah karena Allah sendiri yang telah menyatakannya kepada kita di dalam Alkitab. Karena itu demi mempelajari ajaran Trinitas kita harus kembali kepada Alkitab, Back to the Bible. Alkitab memaparkan ada 3 kesaksian berkenaan dengan ajaran Trinitas:

  1. God is three persons.
  2. Each person is fully God.
  3. There is one God.

Ad.1 God Is Three Persons.

Kenyataan bahwa Allah adalah tiga pribadi[2] berarti bahwa

· Bapa tidak sama dengan Anak

Selidikilah ayat-ayat ini: I Tim 1:1-2; Mat 4;3-4; Luk 23:34,46; Yoh 11:41; 17:1; Ibrani 5:7; Markus 13:32; Yoh 8:42; Yoh 3:16; Yoh 5:19, 23-6; Luk 22:42; Yoh 14:31; Yoh 15:9; Yoh 16:10,28; Yoh 17:5; Ikor 15:28; Yoh 10:30; Mat 27:43, 14:61.

· Bapa tidak sama dengan Roh Kudus;

Selidikilah ayat-ayat ini : Kis 5:31-2; 7:55; 10:38; 13:2; I Kor 2:10-11; Rom 8:26; Yoh 14:26; Yoh 16:13.

· Anak tidak sama dengan Roh Kudus.

Selidikilah ayat-ayat ini : Markus 1:10; Luk 4:18; I Pet 3:18; Yoh 16:7,14

Pertanyaan muncul: apakah Roh Kudus adalah benar2 Pribadi ke-3 Allah Tritunggal dan bukan sekedar “kuasa” atau “kekuatan” Allah yang hadir dalam dunia ini? Bukti bahwa RK adalah Pribadi di dalam PB sangat jelas dan kuat[3]

Ad.2 Each Person Is Fully God.

a. Allah Bapa adalah Allah.

Hal ini sangat jelas sekali, mulai dari ayat pertama dalam Alkitab, dimana Allah menciptakan dunia dan seisinya, sampai dengan kitab terakhir dalam Alkitab.

b. Yesus Kristus adalah Allah.

à Ia memiliki substansi dan kualitas Allah ( Fil 2:5-11)

à Ia mempunyai hak mengampuni dosa (Mrk 2:5)

à Ia mempunyai kuasa untuk menghakimi dunia (Mat 25:31-46) dan yang hidup dan yang mati (2Tim 4:1; II Kor 5:10)

à Ia memiliki kebersamaan dengan Allah (Yoh 14:23)

à Ia ada sejak awal (Yoh 8:58)

à Ia dan Bapa satu dan siapa yang melihat Dia telah melihat Bapa (Yoh 14:7-9)

à Ia memiliki otoritas atas hari Sabat (Kel 20:8-11 & Mrk 2:27-8)

à Ia adalah gambar Allah yang tak kelihatan (Kol 1:15-20). Ia memiliki kepenuhan Allah dan sejajar dengan 2:9).

à Ia menerima perlakuan terhadap diriNya sebagai Allah (Yoh 20:28)

c. Roh Kudus adalah Allah.

à Ketika kita sampai pada kesimpulan bahwa Bapa dan Anak adalah Allah, dan ketika ‘trinitian formula’ digunakan dalam beberapa ayat seperti Mat 28:19 maka akan sangat janggal kalau seumpama Roh Kudus tidak Allah.

à Kis 5:3-4 , Petrus menyamakan berbohong kepada Roh Kudus sama dengan berbohong kepada Allah.

à Paulus dalam I Kor 3:16, mengatakan Roh Allah (Roh Kudus) berdiam dalam Bait Allah.

à Daud dalam Mazmur 139:7-8, mengungkapkan akan sifat omnipresence dari Roh Kudus

à I Kor 2:10-11, - sifat omniscience dari Roh Kudus.

à Proses kelahiran baru dari org percaya adalah pekerjaan Roh Kudus (Yoh 3:5-7 bandingkan I Yoh 3:9)

Jika Alkitab hanya berbicara sampai dua kenyataan ini, maka kesimpulan ketiga yang bisa kita peroleh adalah bahwa ada 3 Allah (polytheisme atau tritheisme), karena itu perlu penjelasan selanjutnya:

Ad. 3 There is One God.

Alkitab PL , PB juga dengan sangat jelas menegaskan bahwa hanya ada dan hanya satu Allah. Allah hanya ada satu being atau essence.

à Ulangan 6:4-5 è Kel 20:4

à Yesaya 44:6-8; 45:20-22; 46:9-10

à Kel 15:11

à I Tim 2:5; Roma 3:30; I Kor 8:6;Yak 2:19.

Konsep Allah yang Esa (tidak ada yang seperti Dia) ini, menjadi dasar mengerti sifat Allah Tritunggal yang:[4]

(1) Transenden, artinya Dia lain dari yang lain, dan Dia melampaui segala sesuatu.

(2) Kudus/Suci, artinya kesucianNya tidak ada bandingnya, sekaligus menjadi sumber segala kesucian.

(3) Mutlak, artinya hanya Dia satu-satunya yang melampaui segala sesuatu yang relative.

(4) Sempurna, artinya Dia adalah satu-satunya yang tidak berkekurangan, yang mencukupi diri sendiri, serta menjadi Sumber mencukupi yang lain.

(5) Kekal, artinya hanya Dia yang tidak mempunyai permulaan dan tidak mempunyai akhir, serta menjadi Sumber dari kekekalan.

Singkatnya hanya ada satu Allah yang sejati. Allah itu ada sejak kekekalan, Sejak kekekalan Allah ada sebagai Bapa, Allah ada sebagai Anak dan Allah ada sebagai RK dan masing2 pribadi adalah Allah sepenuhnya, bukan Allah dibagi tiga bukan pula sepertiga Allah.

“Ketiganya sepenuhnya sama (atau setara) dalam setiap kesempurnaan ilahi. Mereka sama-sama memiliki kepenuhan hakekat ilahi.” (Roger Nicole). Ketiganya satu, tidak berdiri sendiri-sendiri, tidak jalan sendiri-sendiri dan tidak bertindak sendiri-sendiri. Sebaliknya, ketiganya selalu bekerja bersama-sama, atau masing-masing berpartisipasi secara penuh dalam aktifitas yang lain.

Sejauh ini implikasi mengenal Allah Tritunggal (di dalam satu ada tiga dan di dalam tiga tetap memiliki Keesaan):

  1. Membawa kita mempermuliakan Allah. Doktrin Tritunggal ini adalah doktrin atau kebenaran mengenai Allah satu-satunya, Allah yang Maha Esa (The Only One God) yang tidak ada bandinganNya, tidak ada yang menyamaiNya. Maz89:7 = Allah Israel adalah Allah yang tidak ada duanya dan tidak ada taranya. Dia untuk selama-lamanya jauh sekali melampaui dan mengatasi allah-allah lain. Karena hakekat Allah yang demikian maka Dia layak untuk dipuji dan dikasihi dengan segenap hati, jiwa dan tenaga. (layak menerima pengabdian yang penuh dan tidak terbagi)
  2. Membangkitkan semangat Pengkabaran Injil. Ajaran Tritunggal membuat Karya Keselamatan menjadi logis, karena:

o Hanya Allah, yang adalah Allah, yang memandang serius dosa sebagai hal yang memisahkan dan menjadikan kita object murkaNya.

o Hanya Yesus, yang adalah Allah, yang membuat dosa dapat diselesaikan dengan tuntas.

o Hanya Roh Kudus, yang adalah Allah, yang membuat keselamatan bukan hanya menjadi milik orang percaya pada zaman Yesus tetapi juga menjangkau orang pilihanNya di segala zaman dan tempat.

F. Bagaimana Memadukan Tiga Kesimpulan Diatas ?

I. Kondisi Orang Kristen Mula-Mula

Iman murid-murid pertama dituntut untuk menyelaraskan 3 arus kepercayaan yang berbeda dalam diri mereka: warisan kepercayaan monoteisme, pengakuan keTuhanan Kristus Yesus, dan pengalaman akan kehadiran Roh Kudus.

1. The one God. Sebagai orang Yahudi, orang Kristen mula-mula tetap percaya bahwa Allah Yahwe melanjutkan pekerjaan-Nya, seperti yang telah dinubuatkan para nabi. Tradisi Ibrani yang diwariskan kepada gereja adalah kepercayaan pada satu Allah dan menolak segala penyembahan ilah lain yang ada disekitar mereka (Ul 6:4-5; Ul 32:36-9; 2 Sam 7:22; Yes 45:18). Penyembahan terhadap allah lain adalah merupakan penghujatan dan pelanggaran terhadap 10 Perintah Allah.

2. KeTuhanan Yesus. Orang Kristen awal menyembah satu Allah, tetapi juga mereka mengetahui bahwa Allah itu menyatakan diriNya sendiri di dalam Yesus, kepala gereja dan Tuhan semua ciptaan. -(Yoh 1:18; 20:28; Rom 9:5; Tit 2:13).

3. The Spirit’s presence. Iman orang kristen awal bukan hanya terdiri dari pengakuan akan Yesus dan percaya pada satu Allah, tetapi juga tercakup pengakuan bahwa Allah sekarang hadir di antara mereka melalui Roh Kudus.

Situasi gereja mula-mula ini menuntut orang Kristen awal mengintegrasi satu pengertian gabungan dari tiga dimensi pengalaman mereka ini berjumpa dengan Allah. Situasi inilah yang menantang pemikir Kristen selama 3 abad untuk selanjutnya menemukan satu konsepsi mengenai Allah yang mencakup 3 realita berbeda dari kehadiran Allah.

II. Sidang-Sidang Gereja

1. KONSILI NICEA (325)

Dari sidang di Nicea (terdapat perdebatan yang panjang antara Arius dan Anthanasius, mengenai kata homoiousios (homoi= similar) dengan homoousios (homo= same of nature). Yang pada akhirnya para Bapa gereja menyepakati suatu pengakuan:

“ We believe in one God, the Father Almighty, …..

And in one Lord Jesus Christ, the Son of God …… not made, being of one substance ( homoousion) with the Father”

Lebih jauh Tertullian (pencetus istilah Tritunggal) menjelaskan kata “ousios” (Yunani) atau “substantia” (Latin) = satu essensi (share the same will, nature and essence) Dan kata “hypostatis” (Yunani) atau “persona” (Latin) = bukan seperti pengertian modern punya 3 pusat kesadaran yang berbeda dan yang tidak bergantung satu sama lain; tetapi adalah punya 3 “cara berada” yang objective (mode of being

Jadi dapat disimpulkan dalam hal hakekat: Allah adalah satu. Dalam hal kepersonaan: Allah ada sejak kekekalan sebagai 3 persona: Bapa, Anak dan RK; memperkenalkan diriNya sebagai Allah Tritunggal.

Ketika menunjuk kepada apa yang khusus bagi masing-masing (persona) kita dapat katakan bahwa Bapa bukanlah Anak dan bukanlah RK; Anak bukanlah Bapa dan bukanlah RK; dan RK bukanlah Bapa dan Anak. Tetapi ketika menunjuk kepada yang umum bagi semua (hakekat), kita dapat berkata, bahwa Bapa adalah Allah sepenuhnya; Anak adalah Allah sepenuhnya dan RK adalah Allah sepenuhnya. Dengan demikian Bapa, Anak dan RK bersama-sama adalah Allah. Ketiga-tiganya tidak terpisahkan satu sama lain. Memiliki penuh sifat ke-Allah-an., namun tiga oknum yang berbeda satu dengan yang lain.

  1. KONSILI KONSTANTINOPEL (381)

Sesudah Nicea, perdebatan lain yang berkaitan dengan Tritunggal adalah mengenai kaitan Roh Kudus dalam Tritunggal. Pengikut Arius bukan saja mengajarkan bahwa Anak adalah ciptaan pertama Bapa, tetapi juga mengatakan bahwa Roh Kudus adalah ciptaan pertama Anak.

Athanasius mencatat bahwa Roh Kudus disejajarkan dengan Bapa dan Anak dalam formulasi baptisan, salam para rasul dan doxologi di PB. Argumentasi terpenting tentang keillahian Roh Kudus adalah dalam kaitan dengan doktrin pneumatologi dan soteriologi. Athanasius berkata: Jika Roh yang masuk ke dalam hati orang percaya bukan Roh Allah yang sesungguhnya, berarti kita tidak akan mempunyai persekutuan yang sejati dengan Allah.

Konsili Konstantinopel menjawab tantangan ini dengan menyetujui Athanasius “affirming the full deity of the Spirit”.

  1. KONSILI CHALCEDON (451)

Dalam konsili ini lahirlah Pengakuan Iman Rasuli yang sampai sekarang dipakai gereja-gereja.

G. Mencoba menjelaskan Allah Tritunggal

Peperangan doktrin Tritunggal dalam sejarah gereja sangat panjang tetapi yang menarik kita bisa belajar dari sikap Agustinus (Bapa gereja abad 4) yang mempunyai 2 prinsip dalam belajar doktrin: (1) Aku percaya untuk bisa mengerti (2) Aku mengerti untuk mau percaya. Jadi baginya iman kepercayaan sudah jauh memandang ke depan, barulah intelek mengikut apa yang telah dilihat oleh iman.

Sehingga di dalam tesisnya tentang Tritunggal, Agustinus juga memiliki 2 prinsip yaitu: (1) taklukkan diri terlebih dahulu kepada Tuhan dengan iman yang murni (2) jelaskan dengan teliti apa yang seharusnya kita percaya. Sejak itulah doktrin Tritunggal diterima dengan baik oleh gereja dan menjadi doktrin yang penting, dan barang siapa tidak menerima Tritunggal dianggap bidat dan tidak termasuk gereja yang sejati.

Selanjutnya bicara soal analogy, tidak ada analogy yang baik dan tepat, yang dapat dipakai untuk menjelaskan dengan sederhana doktrin Tritunggal. Namun banyak orang sering memakai penjelasan ini, yang mungkin dianggap dapat menolong:

X + X + X = 3X

Bila setiap X kita ganti dengan angka 1 maka 1 + 1 + 1 = 3; tetapi bila setiap X yang dimaksud adalah Allah sepenuhnya sejak kekekalan yang disimbolkan dengan (tak berhingga) ; maka + + = bukan = 3

Sebenarnya analogy ini tidak dapat dengan tepat menjelaskan Allah Tritunggal, karena sesungguhnya bilangan tak berhingga tidak perlu ditambah dengan bilangan apapun yang lain. Memang tidak ada penjelasan yang dapat membuat kita memahami sejelas-jelasnya ajaran yang luar biasa ini. Sama seperti yang dikatakan seseorang tentang ajaran Trinitas: “Cobalah menjelaskannya dan kamu akan kehilangan pikiranmu (alias gila); tetapi cobalah untuk menyangkalinya dan kamu akan kehilangan jiwamu (alias binasa)!”

SISIPAN

TRINITARIAN DOCTRINE AND CHRISTIAN LIFE:

Allah dalam diriNya memiliki “unity and diversity”. Hal ini terefleksi juga dalam hubungan relasi antar manusia, yang Allah sendiri teguhkan. Pertama kita dapat lihat dalam pernikahan. Ketika Allah menciptakan manusia sesuai gambar dan peta Allah, IA tidak hanya semata-mata menciptakan manusia sebagai pribadi:laki-laki dan perempuan, tetapi Allah menciptakan manusia untuk dalam kesatuan pernikahan (Kej2:24). Pernikahan adalah lembaga atau tanda kesatuan antara 2 pribadi – pribadi-pribadi yang berbeda - tetapi telah menjadi satu dalam body, mind and spirit (Ef 5:31). Sesungguhnya relationship antara pria dan wanita menjadi satu daging dalam pernikahan, adalah juga gambaran relationship antara Allah dan Anak dalam Tritunggal.

Kedua, dalam hubungan keluarga baca=1 Kor11:3, seperti Allah punya otoritas atas Anak dalam Tritunggal, demikian suami atas istri dalam pernikahan. Peranan suami parallel dengan peran Allah Bapa dan peran istri sama dengan peran Allah Anak. Lebih lanjut, sama seperti Bapa dan Anak adalah sederajat dalam keIlahian, dan masing2 berperan sama penting dan berpribadi; demikian pula suami dan istri sebagai manusia cipataan Tuhan, diciptakan sederajat, dan masing2 berperan sama penting dan berpribadi. Selanjutnya walaupun hal itu tidak secara terang2an dijelasan dalam Alkitab, namun analogi: kehadiran anak dalam pernikahan, datang dari ayah dan ibu dan anak harus tunduk kepada OT adalah juga terjadi dalam hubungan RK dengan Bapa dan Anak dalam Tritunggal.

Hubungan dalam keluarga bukanlah satu-satunya cara dimana Allah merefleksikan unity and diversity seperti milikNya kepada dunia. Ketiga, dalam gereja, kita memiliki “banyak anggota” tetapi “satu tubuh” (1 Kor 12:12). Paulus merefleksikan ada perbedaan yang besar dalam jemaat yang satu tubuh (1 Kor 12:14-26) = punya banyak anggota dengan berbeda-beda karunia dan interests dan sangat bergantung satu dengan yang lain. Walaupun ada perbedaan yang besar namun pada saat yang bersamaan ada kesatuan yang besar. Ketika kita melihat orang yang berbeda-beda mengerjakan pekerjaan yang berbeda-beda dalam kehidupan bergereja, kita seharusnya mengucap syukur pada Allah bahwa kita diizinkan memuliakanNya dengan merefleksikan sesuatu yang unity and diversity dalam Tritunggal.

Kita seharusnya tahu bahwa tujuan Allah dalam sejarah dunia berulangkali adalah untuk mendemonstrasikan unity in diversity dan akhirnya menyaksikan kemulianNya. Kita lihat ini bukan hanya dalam keberagaman karunia di gereja (1Kor 12:12-26) tetapi juga dalam kesatuan Yahudi dan Yunani, sehingga semua suku, tak kecuali siapa mereka dalam keberagaman yang ada dipersatukan dalam Kristus (Ef 2:16; 3:8-10; Why 7:9). Juga kesatuan untuk menjadi dewasa di dalam Kristus (Ef 4:11-16). Paulus kagum bahwa rencana sejarah keselamatan Allah seperti sebuah symphony besar sehingga hikmatNya melampaui pengertian kita (Rom 11:33-36) Bahkan dalam misteri kesatuan antara Kristus dan gerejaNya, dimana kita disebut pengantin Kristus (Ef 5:31-32), adalah kesatuan yang tidak dapat kita bayangkan, kesatuan dengan Anak Allah sendiri, namun dalam semuanya ini kita tidak pernah kehilangan identitas pribadi: sebagai pribadi yang terpisah dengan pencipta, dan yang selalu dapat menyembah dan melayani Allah dengan cara pribadi kita yang unik.

Seluruh alam semesta yang mengambil bagian dalam keperbedaan suatu hari nanti akan bersatu menyembah Allah Bapa, Anak dan Roh dan dimana, dalam nama Yesus bertekuk lutut semua yang di sorga, dibumi dan dibawah bumi dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan untuk memuliakan Allah Bapa (Fil2:10-11)

Dalam level kehidupan sehari-hari, ada beberapa kegiatan (contoh: dalam pekerjaan, dalam organisasi social, dalam pertunjukan musik dan dalam team atletic) dimana semua keperbedaan individu berkontribusi untuk sebuah kesatuan tujuan dan aktivitas. Seperti kita lihat dalam seluruh kegiatan2 ini adalah sebuah refleksi “lemah” dari kemulian Allah dalam keberadaan ketritunggalanNya. Walaupun kita tidak dapat sepenuhnya mengerti misteri Allah Tritunggal, kita dapat menyembah Allah sebagaimana Dia ada baik di dalam puji2an kita dan di dalam perkataan dan perbuatan sebagaimana hal2 tersebut mecerminkan sesuatu tentang Allah Tritunggal.

TRINITARIAN PRAYER:

Doktrin ini membentuk fondasi, bagaimana caranya kita berdoa. Doa kita harus terarah kepada ketiga pribadi TRITUNGGAL. Perjanjian Baru meng”konfirmasi”kan kepada kita, doa itu terarah kepada Bapa secara wajar, seperti yang Yesus ajarkan sendiri. Bapa, sumber penciptaan dan keselamatana kita, karena itu layak kita puji dan syukuri. Sekaligus kita bisa bersyafaat kepada Dia untuk segala kebutuhan kita, karena Dia-lah Bapa yang baik. Tentunya doa pun dapat kita arahkan kepada Yesus Kristus, karena Dia-lah Tuhan yang sudah mengerjakan keselamatan bagi kita dan Dia-lah yang dinantikan oleh kita mau pun semua ciptaan yang akan mempersembahkan “koor” penyembahan : HE IS THE LORD (Fil 2:9-10). Roh Kudus pun layak jadi alamat doa kita (kendati pun tidak ada referensi langsung dalam Alkitab). Sepanjang sejarah Hymn/Liturgy, kita datang kepada Roh Kudus untuk menyembah dan menghampiriNya. Namun sekaligus kita harus ingat, Roh Kudus menyatakan diriNya sebagai pribadi yang “silent”, yang tidak pernah membawa perhatian kita kepadaNya, melainkan membawa perhatian kita kepada Anak dan Bapa. (Yoh 16:13-15)

TRINITARIAN ETHICS: OUR GOD IS A SOCIAL TRINITY

Doktrin ini harus jadi Fondasi Etika Kristen. Waktu kita menyebut Allah Tritunggal di dalam kekekalan, Allah kita yang esa adalah suatu REALITAS SOSIAL (THE SOCIAL TRINITY). Sehingga itu berarti Allah menghendaki Human Kind, bukan memfokuskan kepada SOLITARY PERSON, melainkan PERSON IN COMMUNITY. Allah Tritunggal di dalam kekekalanNya adalah Allah yang Kasih. Maka di dalam komunitas kita dan dalam relasi kita, Kasih adalah ideal dan standard bagi relasi kehidupan manusia (Household of Faith).



[1] Stephen Tong, Allah Tritunggal, LRII, 1990.

[2] Pengertian pribadi / persona bukan seperti pengertian modern (punya 3 pusat kesadaran dan tidak bergantung satu sama lain) tetapi adalah “cara berada yang objective” (mode of being).

[3] Pertama, RK dijelaskan memiliki kaitan yang sangat erat dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus (misal Mat 28:19 dst) dan karena Allah Bapa dan Yesus Kristus, masing2 adalah Pribadi, maka relasi yang sangat kuat antara Allah Bapa, Yesus Kristus dengan RK adalah Pribadi juga. Selanjutnya, penjelasan RK menggunakan kata ganti diri manusia (maskulin pronoun) dan pekerjaan RK adalah pekerjaan seorang oknum bukan hanya kuasa. RK disebut Penghibur (parakletos: dalam bahasa sehari-hari artinya seorang yang dipanggil untuk mendampingi di pengadilan). Sebutan ini tidak mungkin digunakan untuk kuasa atau kekuatan yang impersonal. Yesus Kristus sendiri disebut parakletos (IYoh2:1) dan RK diutus untuk menggantikan kedudukan seorang Pribadi (Yesus Kristus) menjadi Penghibur yang lain (Yoh 14:26) Terakhir, RK memiliki karakteristik yang menyatakan diriNya sebagai Pribadi yang memiliki akal, kehendak dan emosi (Ef 1;17; 1Kor12:11; Kis 16:6; Ef4:30)

[4] Stephen Tong, Allah Tritunggal, LRII, 1990